8.9.14

Kemanapun Kita Menghadap Disitulah Wajah Allah swt

Pada awal-awal perkembangan agama Islam berkiblat ke baitul makdis (palestina). Selama beberapa belas bulan lamanya kiblat ke arah kota tersebut yang membuat Yahudi Bergembira.

Kemudian Allah swt memerintahkan Rosulullah saw dan ummatnya untuk berkiblat ke arah masjidil haram atau mekah (Ka'bah) yang mana hal ini membuat Yahudi bertanya-tanya heran.

Justru ini ada sebuah hikmah besar, dimana dengan alasan ini saja sudah bisa mematahkan klaim dari agama lain yang menyatakan bahwa ummat Islam menyembah Ka'bah. Hal ini tentu tidak benar sama sekali, dikarenakan dahulunya kiblat ummat Islam bukan Ka'bah, tetapi Baitul Makdis.


Diluar itu semua kemanapun kita berdoa, maka milik Allah lah segala penjuru mata angin. Sebagaimana dalam firmannya sbb

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS Al Baqarah 115)

'Disitulah wajah Allah' maksudnya; kekuasaan Allah meliputi seluruh alam; sebab itu di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya, karena ia selalu berhadapan dengan Allah.

SEBAB TURUNNYA AYAT: Diketengahkan oleh Muslim, Tirmizi, dan Nasai dari Ibnu Umar, katanya, "Nabi saw. biasa salat sunah di atas kendaraannya ke mana saja ia menghadap, sewaktu beliau kembali dari Mekah ke Madinah. Kemudian Ibnu Umar membaca, 'Dan milik Allah lah timur dan barat,' seraya berkata, 'Mengenai hal itulah ayat ini diturunkan.'"

Diketengahkan pula oleh Hakim, katanya, diturunkan ayat, "...maka ke mana saja kamu menghadap, di sanalah Zat Allah," (Q.S. Al-Baqarah 115) Anda dapat melakukan salat sunat di atas kendaraan Anda ke mana saja ia menghadap. Ia berkata, "Hadis ini sah menurut syarat Muslim." Inilah yang paling sah isnadnya mengenai ayat tersebut, bahkan dijadikan pegangan oleh suatu golongan. Tetapi padanya tidak ada ketegasan menyebutkan sebab, hanya dikatakannya bahwa ayat itu turun mengenai soal ini, dan hal itu telah kita bicarakan dulu. Di samping itu ada pula kita temui riwayat yang menyatakan asbabun nuzulnya secara tegas, misalnya yang diketengahkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim, dari jalur Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas, bahwa tatkala Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, beliau diperintahkan Allah untuk menghadap ke Baitulmakdis hingga orang-orang Yahudi gembira. Beberapa belas bulan lamanya Nabi menghadap ke Baitulmakdis, walau sebenarnya ia lebih menyukai kiblat Nabi Ibrahim. Ia selalu memohon kepada Allah dan menengadahkan mukanya ke langit, maka Allah pun menurunkan, "Maka palingkanlah mukamu ke arahnya." (Q.S. Al-Baqarah 144). Orang-orang Yahudi menjadi bingung karenanya, kata mereka, "Apa sebabnya mereka berpaling dari kiblat mereka semula?" Maka Allah pun menurunkan "Katakanlah! 'Dan milik Allah-lah timur dan barat', dan firman-Nya, 'maka ke mana saja kamu berpaling, di sanalah Zat Allah.'" (Q.S. Al-Baqarah 115). Isnadnya kuat dan maknanya juga menunjangnya, maka ambillah sebagai pegangan!

Mengenai ayat ini, ada lagi beberapa riwayat lain yang lemah, misalnya yang dikeluarkan oleh Tirmizi, Ibnu Majah dan Daruquthni, dari jalur Asy`ats As-Saman, dari Ashim bin Abdullah, dan Abdullah bin Amir bin Rabiah dari bapaknya, katanya, "Kami berada bersama Nabi saw. dalam suatu perjalanan di malam yang gelap gulita, hingga kami tidak mengetahui lagi arah kiblat. Maka kami melakukan salat di kendaraan masing-masing dan tatkala hari telah pagi, kami sampaikan hal itu kepada Nabi saw., maka turunlah, 'maka ke mana saja kamu berpaling, di sanalah Zat Allah.'" (Q.S. Al-Baqarah 115). Menurut Tirmizi hadis ini gharib atau langka, sedangkan Asy`ats lemah dalam meriwayatkan hadis. Diketengahkan oleh Daruquthni dan Ibnu Murdawaih, jalur Arzami, dari Atha', dari Jabir, katanya, "Rasulullah saw. mengirim pasukan yang aku ikut di dalamnya. Tiba-tiba datang gelap gulita hingga kami tidak tahu arah kiblat; sebagian sahabat mengatakan bahwa sepengetahuan mereka kiblat itu di sini yakni ke arah utara. Mereka pun salat dan membuat jajaran garis-garis. Tetapi sebagian lagi mengatakan bahwa kiblat itu ke arah selatan, hingga mereka pun salat dan membuat jajaran garis-garis pula. Tatkala hari pagi dan sang matahari menampakkan diri, ternyata bahwa garis-garis semalam tidak menghadap ke arah kiblat. Maka tatkala kami kembali dari perjalanan dan kami tanyakan hal itu kepada Nabi saw. Beliau diam, lalu Allah menurunkan, 'Dan milik Allahlah timur dan barat...' sampai akhir ayat." (Q.S. Al-Baqarah 115).

Diketengahkan oleh Ibnu Murdawaih, dari jalur Al-Kalbiy, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah saw. mengirim satu ekspedisi. Tiba-tiba mereka diselimuti kabut hingga tidak tahu arah kiblat, lalu melakukan salat. Kemudian setelah matahari terbit, ternyata mereka salat tidak menghadap arah kiblat. Tatkala mereka bertemu dengan Rasulullah, mereka sampaikan peristiwa itu, dan Allah lalu menurunkan ayat ini, "Dan milik Allah-lah timur dan barat..." sampai akhir ayat. (Q.S. Al-Baqarah 115).

Diketengahkan pula oleh Ibnu Jarir, dari Qatadah, bahwa Nabi saw. bersabda, "Seorang saudara kamu telah meninggal dunia (maksudnya Najasyi,) maka salatkanlah dia!" Jawab mereka, "Apakah kita akan menyalatkan seseorang yang tidak beragama Islam?" Maka turunlah ayat, "Sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah ..." sampai akhir ayat. (Q.S. Ali Imran 199). Kata mereka, "Tetapi salatnya ke arah kiblat." Maka Allah pun menurunkan, "Dan milik Allahlah timur dan barat ..." sampai akhir ayat. Riwayat ini amat gharib sekali, di samping ia mursal dan mu`dhal. Diketengahkan pula oleh Ibnu Jarir, dari Mujahid, katanya, "Tatkala turun ayat, 'Bermohonlah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan permohonanmu itu', (Q.S. Ghafir, 60) mereka bertanya, 'Ke arah mana?' Maka turunlah ayat, 'Ke mana saja kamu menghadap di sanalah Zat Allah!'" (Q.S. Al-Baqarah 115)

Wallahu A'lam
Semoga bermanfaat


No comments:

Post a Comment